Tantangan CEO Pabrik: Data Banyak, Kendali Sedikit
Di banyak pabrik, masalah utamanya bukan kekurangan data. Masalahnya adalah ritme eksekutif yang tidak terbentuk. Tim produksi, logistik, dan keuangan mungkin sudah memantau ratusan metrik. Namun ketika CEO bertanya, “Hari ini kita aman atau tidak?” jawabannya sering panjang, berputar, atau terlambat.
KPI harian yang tepat harus memenuhi tiga fungsi sekaligus:
Pertama, mencerminkan realitas manufaktur: waktu, kapasitas, yield, flow, dan delivery.
Kedua, dapat ditindaklanjuti: setiap angka harus mengarah ke “implikasinya apa” dan “aksi apa”.
Ketiga, terkoneksi dengan uang: karena operational excellence yang tidak berubah menjadi margin dan kas hanyalah kesibukan.
Itulah alasan tujuh KPI berikut sangat efektif. Jika digabung, KPI ini membentuk cerita yang utuh: seberapa baik pabrik berjalan, seberapa tepat kita mengirim, seberapa besar yang terbuang, seberapa banyak yang tersangkut di proses, berapa lama uang tertahan di stok, seberapa sehat piutang/utang, dan apakah order yang dikirim benar-benar menghasilkan margin.
1) OEE (Overall Equipment Effectiveness): “Seberapa besar kapasitas kita benar-benar jadi output?”
If you only look at output volume, you can be fooled by overtime, extra shifts, or short-term heroics. OEE forces reality.
It compresses equipment performance into a single indicator by combining availability, performance, and quality.
Bagi CEO, OEE penting karena menjawab pertanyaan paling mendasar: apakah kapasitas terpasang kita dikonversi menjadi produk bagus secara efisien? Ketika OEE turun, biasanya ada akar masalah seperti downtime, speed loss, micro stoppage, rework, atau reject kualitas—yang semuanya menggerus margin diam-diam.
Dalam laporan harian level CEO, Anda tidak butuh detail loss code yang panjang. Anda butuh alarm yang jelas: OEE hari ini vs target, tren dibanding kemarin, serta penyebab utama penurunan. Saat OEE stabil dan naik, itu adalah indikator awal bahwa pabrik Anda terkendali.
2) OTIF (On Time In Full): “Apakah pelanggan menerima sesuai janji kita?”
Pabrik bisa terlihat “efisien” tetapi gagal secara komersial bila tidak bisa mengirim tepat waktu dan lengkap. OTIF mengukur keandalan pengiriman: tepat waktu dan lengkap jumlah/spesifikasinya.
OTIF disukai CEO karena indikator ini sangat jujur. Ia mencerminkan kualitas planning, ketersediaan material, kepatuhan produksi pada rencana, eksekusi gudang dan logistik, bahkan disiplin master data. Ketika OTIF turun, perusahaan membayar dua kali: kepercayaan pelanggan turun dan biaya ekspedisi/expedite naik.
Monitoring harian penting karena masalah pengiriman jauh lebih murah diperbaiki sebelum truk berangkat. Laporan CEO sebaiknya menunjukkan OTIF hari ini, daftar pengiriman berisiko (atau sudah gagal), serta alasan dominan: material shortage, keterlambatan produksi, quality hold, atau kendala transport.
3) Scrap Rate: “Berapa banyak nilai yang kita buang hari ini?”
Scrap bukan sekadar limbah; scrap adalah material, tenaga, dan waktu yang sudah dibayar tetapi tidak pernah menjadi revenue. Scrap rate memberi sinyal seberapa efisien proses mengubah input menjadi output yang dapat dijual.
Scrap bukan sekadar limbah; scrap adalah material, tenaga, dan waktu yang sudah dibayar tetapi tidak pernah menjadi revenue. Scrap rate memberi sinyal seberapa efisien proses mengubah input menjadi output yang dapat dijual.
Scrap rate bersifat “CEO-grade” karena dampaknya langsung ke biaya dan margin. Kenaikan kecil bisa berdampak besar, apalagi untuk lini volume tinggi atau material mahal. Lebih dari itu, scrap sering menjadi gejala masalah yang lebih dalam: proses tidak stabil, mesin drift, variasi supplier, atau gap training operator.
Dengan monitoring harian, Anda dapat menangkap lonjakan yang tidak normal sejak dini. CEO tidak perlu laporan root cause panjang setiap pagi; CEO butuh early warning dan disiplin: ketika scrap melewati ambang, tim harus segera melakukan containment dan investigasi.
4) WIP (Work in Process): “Berapa banyak produk nyangkut di tengah proses?”
WIP adalah pembunuh senyap. WIP terlalu rendah bisa membuat proses downstream kelaparan, tapi WIP terlalu tinggi sering menandakan ketidakseimbangan line, bottleneck, jadwal yang tidak stabil, atau quality hold. WIP tinggi juga menahan kas dan memperpanjang lead time.
Bagi CEO, WIP adalah indikator flow. Jika WIP terus naik sementara pengiriman stagnan, pabrik Anda sedang menumpuk “janji yang belum selesai.” Biasanya ujungnya adalah firefighting: lembur, expedite, dan missed delivery.
WIP harian idealnya dilihat per tahap kritis atau area proses utama. Tampilan CEO bisa sederhana: total nilai WIP, dua tahap dengan penumpukan terbesar, dan apakah bottleneck berpindah. Ini sudah cukup untuk mengarahkan prioritas: angkat constraint, rebalance tenaga kerja, atau bereskan quality hold.
5) Inventory Days (Days of Inventory on Hand): “Stok kita bertahan berapa hari pada konsumsi saat ini?”
Inventory tidak otomatis baik atau buruk. Namun inventory selalu keputusan kas. Inventory days mengubah angka stok menjadi satuan waktu, sehingga lebih mudah memahami apakah stok terlalu tinggi (kas tertahan, risiko usang) atau terlalu rendah (risiko stop produksi dan gagal OTIF).
Sebagai KPI harian, inventory days menjadi kuat jika dibagi per kategori: bahan baku, WIP, dan barang jadi. CEO mungkin toleran raw material days lebih tinggi jika supply tidak stabil. Namun finished goods days yang membengkak sering menunjukkan masalah demand, forecasting, atau perencanaan produksi.
Laporan yang baik menampilkan tren dan pengecualian: item mana yang overstock, item mana yang rawan stockout, serta dampaknya terhadap OTIF.
6) Kesehatan AR/AP (Accounts Receivable / Accounts Payable): “Apakah kas kita aman dari kejutan?”
Banyak CEO fokus ke dashboard produksi dan lupa bahwa manufaktur adalah permainan kas. Anda bisa untung di kertas, tetapi tetap tercekik bila piutang macet atau hutang tidak terkelola.
KPI AR/AP harian tidak berarti rapat keuangan panjang. Yang diperlukan adalah pulse cepat: total piutang overdue, pelanggan overdue terbesar, estimasi penagihan hari ini, serta hutang yang jatuh tempo dalam horizon pendek. Tujuannya sederhana: tidak ada kejutan kas.
KPI ini juga membangun alignment lintas fungsi. Ketika sales, operasi, dan finance melihat risiko AR setiap hari, keputusan komersial jadi lebih disiplin: credit limit, termin pembayaran, hingga kebijakan hold delivery menjadi berbasis aturan, bukan emosi.
7) Margin per Order: “Order yang dikirim hari ini benar-benar untung atau hanya ramai?”
Ini KPI “truth serum” untuk CEO. Volume tanpa margin adalah pertumbuhan menuju masalah. Banyak pabrik fokus pada utilisasi dan output, padahal setiap order harus menyumbang profit.
Margin per order idealnya dihitung realistis: biaya material, biaya konversi (tenaga kerja/mesin), asumsi overhead minimal standar, serta biaya logistik jika memungkinkan. Sekalipun masih memakai standard costing, trennya tetap sangat berguna. Jika margin menyusut, CEO bisa langsung bertanya dengan tepat: price erosion, yield loss, lembur, premium freight, atau pergeseran product mix.
Dalam laporan harian, cukup tampilkan rata-rata margin dari order yang dikirim hari ini, lima order dengan margin terendah, dan deviasi terbesar dari ekspektasi. Itu sudah cukup untuk memicu aksi komersial dan operasional.
Bagaimana 7 KPI Ini Menjadi Laporan Harian yang Ringkas Tapi Nendang
Kunci utamanya bukan hanya memilih KPI, tetapi membentuk format dan kebiasaan. Laporan CEO idealnya muat satu halaman (atau satu layar), selesai dibaca kurang dari 10 menit, dan konsisten setiap hari dengan ambang batas yang jelas serta ownership yang tegas.
Cara terbaik adalah memperlakukan laporan ini sebagai narasi:
- OEE menunjukkan seberapa baik pabrik berjalan.
- Scrap rate menunjukkan apa yang hilang/terbuang.
- WIP dan inventory days menunjukkan apa yang tersangkut dan berapa kas tertahan.
- OTIF menunjukkan apa yang pelanggan rasakan.
- AR/AP menunjukkan apakah arus kas aman.
- Margin per order memastikan eksekusi hari ini menghasilkan laba.
Saat KPI ini tersambung, CEO bisa mengendalikan perusahaan tanpa tenggelam dalam detail.
Conclusion
CEO pabrik tidak membutuhkan 50 KPI. CEO membutuhkan tujuh kebenaran harian yang membongkar eksekusi, flow, kas, dan profit—sebelum masalah menjadi mahal dan rumit. OEE, OTIF, scrap rate, WIP, inventory days, AR/AP, dan margin per order adalah sistem ringkas yang membuat pabrik lebih terkendali dan keputusan lebih cepat.